Murai Batu | Tips Dan Info Burung Murai Batu Butuh Kejelian Beli Bakalan Murai Batu Muda Hutan | Murai Batu

18 Oktober 2013

Butuh Kejelian Beli Bakalan Murai Batu Muda Hutan

Butuh Kejelian Beli Bakalan Murai Batu Muda Hutan

Bakalan adalah sebutan untuk burung muda yang masih belum rajin berkicau, umumnya burung burung muda hasil tangkapan hutan atau dikenal dengan istilah muda hutan (MH). Harga burung bakalan biasanya lebih murah daripada burung setengah jadi atau sudah jadi. Bagaimana cara memilih bakalan murai batu MH, berikut tips ringan yang semoga berguna untuk Anda semua.

Pemilihan bakalan murai batu MH harus jeli, karena tak jarang burung murai hasil tangkapan tersebut diperoleh dari hasil pancingan atau dengan bahan racun yang memiliki efek bius terhadap burung tersebut. So, lebih baik tanyakan kepada penjual mengenai asal mula atau bagaimana cara mendapatkan burung tersebut. 

Terlepas dari jenis dan asal usulnya, pastikan kalau burung murai batu yang hendak dibeli tersebut berkelamin jantan. Bagaimana cara membedakan jantan dan betina, silakan cek Ciri Jantan dan Betina Murai Batu. Secara fisik, burung jantan memiliki tubuh besar dan lebar, ekor panjang dan lebar, kaki panjang dengan sisik sedikit kasar, paruh panjang kokoh dan agak tebal. 

Bulu-bulunya tidak begitu kasar, bulu putih di punggung melebar, sedangkan bulu hitam lebih berkilau (terutama pada batasan antara bulu hitam dan cokelat). Burung betina memiliki ciri sebaliknya, di mana tubuh lebih kecil, kepala kecil dan agak membulat, ekor pendek dan kecil, kaki pendek dengan sisik lebih halus, paruh pendek-tipis dan agak melengkung. 

Bulu putih di punggung lebih sempit, sedangkan bulu hitam di tubuhnya terlihat sedikit kusam, tidak berkilau dan agak keabuabuan, terutama pada batasan bulu hitam dan cokelat.

Membedakan piyik jantan dan betina 

Membedakan jenis kelamin murai batu yang masih piyik sedikit lebih sulit, karena bulu-bulunya belum lengkap atau belum tumbuh secara sempurna. Diperlukan sedikit kejelian, terutama dengan mencermati bintik-bintik cokelat di bagian sayap dan bagian tengah dada. Jika terlihat tanda-tanda tersebut, berarti piyik tersebut jantan.

Jika bagian tengah dadanya berwarna keputihan, sedikit bercampur dengan warna cokelat tipis yang memanjang ke bawah, berarti piyik tersebut betina. Sebenarnya jenis kelamin pada piyik murai batu juga bisa diamati dari postur tubuhnya.

Jika tubuhnya agak besar dan panjang, piyik tersebut berkelamin jantan. Sebaliknya, jika tubuhnya lebih kecil dan pendek, berarti betina. Persoalannya, untuk membandingkan hal ini mesti ada dua piyik atau lebih. Jika yang diamati hanya satu ekor saja, maka bintik-bintik cokelat di bagian sayap dan bagian tengah dada bisa dijadikan tengara. 

Setelah urusan kelamin selesai, sekarang melakukan pengamatan terhadap kondisi burung, terutama kesehatannya. Burung yang sehat tercermin dari gerakannya yang lincah, sorot mata yang tajam, melotot tidak berair, tidak memiliki cacat pada mata, sayap, kaki, paruh dan bagian tubuh lainnya.

Murai batu akan mengeluarkan suara cetrekan jika didekati atau merasa takut dan curiga dengan situasi sekelilingnya. Nah, jika suara cetrekan terdengar panjang dan kencang, bisa dipastikan burung tersebut akan mampu berkicau dengan lantang dan panjang. Hal ini sekaligus merupakan tengara kalau burung tersebut berkelamin jantan.

Merawat bakalan murai batu

Jika bakalan murai batu yang dibeli merupakan hasil pancingan, ada kemungkinan kailnya masih tertinggal dalam tenggorokan. Kalau hal ini tidak diketahui selama beberapa hari, bagian tubuh tersebut bisa mengalami infeksi yang membuatnya malas makan.

Apabila kondisinya makin parah, tidak mustahil burung akan mati. Jadi berhati-hatilah saat membeli bakalan burung murai, terlebih di lapak-lapak dadakan atau pedagang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal. Lain persoalan jika burung tersebut merupakan hasil pikatan jaring dan pulut. Anda bisa langsung masuk ke perawatan bakalan murai batu.

Biasanya bakalan MH belum mengenal makanan buatan manusia (voer). Karena itu, burung perlu dilatih makan voer agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari, termasuk ketika pasokan extra fooding seperti kroto di pasaran sedang kosong. Informasi mengenai cara melatih murai batu agar terbiasa dengan makanan buatan manusia (voer).

Dalam perawatannya, burung ini membutuhkan extra fooding (EF) berupa jangkrik, ulat bambu, kroto, dan ikan kecil. Pemberian EF harus rutin (setiap hari), dibarengi dengan pemberian suplemen atau vitamin. Bagi bakalan murai batu MH, menu EF biasa disantapnya saat masih berada di habitat aslinya: hutan. Tetapi suplemen tak pernah diperolehnya dalam bentuk seperti di dalam sangkar / kandang.

Suplemen mempercepat  adaptasi

Tujuan pemberian suplemen ini untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak cepat ngedrop karena perubahan pola makan dan jenis makanan yang berbeda antara hutan dan sangkar / kandang. Suplemen juga bisa mencegah burung dari kondisi stres, karena jika sampai stres bisa berakibat fatal: cepat drop, rentan mengalami kelumpuhan mendadak, tidak mau makan atau minum, dan bulu-bulu tubuhnya lebih sering mengembang dengan pandangan mata berair dan sayu.

Vitamin dan mineral memiliki karakter unik. Jika kelebihan akan dikeluarkan dari tubuh (melalui urine), sehingga tidak membawa efek samping. Tetapi jika kekurangan dipastikan akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral, dengan beberapa gejala seperti cepat drop, kelumpuhan mendadak, malas makan dan minum, bulu terlihat kusam dan sering mengembang, serta mata sayu dan berair.

Perlakuan lain yang tak pernah dialami bakalan murai batu MH adalah pengerodongan. Dalam pemeliharaan manusia, pengerodongan sangkar diperlukan agar bakalan murai batu tidak mengalami ketakutan terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang baru, sehingga terbebas dari stres. Selama beberapa hari, burung tetap dikerodong setiap hari agar lebih tenang dahulu dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. 

Apabila sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lingkungan baru, berarti burung sudah melewati masa kritis. Masa kritis biasanya berlangsung selama 12 hari sejak burung dibeli. Apabila sudah melewati masa kritis, dan sudah mau makan voer (biasanya hingga hari ke-20 atau lebih), maka burung murai batu ini sudah bisa dikatakan “setengah jadi”. Inilah saatnya melakukan proses penjinakan dan pemasterannya.
Postingan Yang Baru Postingan Yang Lama Beranda
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...